Baru-baru ini, saya melihat sebuah unggahan di Instagram yang merekam seorang ayah di Sulawesi Tenggara yang sedang mendampingi jenazah anak perempuannya di dalam ambulans. Rupanya, anaknya itu menjadi korban pembunuhan. Dengan suara yang berat, tanpa air mata yang menandakan kesedihannya sudah sangat dalam, ayah itu berkata bahwa dia akan mencari orang yang memenggal kepala anak kesayangannya itu.
Unggahan ini cukup untuk menyadarkan kita bahwa hidup itu berat. Tepat seperti itu pulalah judul yang diberikan LAI dalam Alkitab TB/TB2 untuk Ayub pasal 7. Ayub, seorang yang tadinya hidup tenang dan nyaman, tiba-tiba harus menghadapi penderitaan bertubi-tubi.
Musibah yang dialaminya membuat Ayub merefleksikan bahwa hidup itu berat, sepertinya tidak berarti, dan penuh penderitaan. Bahkan, dia berpikir tidak akan mungkin mengalami sukacita lagi. Ayub merasa hidupnya fana dan setelah masuk ke dalam alam maut, semua berakhir.
Lalu kalau kita memperhatikan pasal ini secara keseluruhan, Ayub tidak hanya tertekan oleh tuduhan para sahabatnya. Justru, Ayub lebih tertekan karena Tuhan, yang selama ini dia sembah, sepertinya melawan dia. Inilah yang membuat Ayub menumpahkan segala pergumulan hatinya kepada Tuhan.
Namun perhatikan, walaupun Ayub protes dengan keadaannya, tetapi dia mau mendekat kepada Tuhan. Bahkan di bagian akhir kitab ini, Ayub menarik kembali semua perkataannya dan tunduk pada Tuhan setelah mengerti betapa luar biasanya hikmat Tuhan.
Penderitaannya membuat Ayub semakin mengenal Tuhan, rohani dan karakternya meningkat. Nantinya, Tuhan pun memulihkan keadaan Ayub dan malah memberkatinya dua kali lipat dibanding keadaannya yang semula. Ini dilakukan Tuhan untuk menyatakan bahwa Dia berkenan pada orang yang sungguh-sungguh beribadah kepada-Nya, tanpa embel-embel berkat duniawi.
Seperti Ayub, kiranya penderitaan hendaknya membuat kita mendekat pada Tuhan, bukan malah berusaha menyelesaikannya semau sendiri. Penyelesaian yang hanya dipikirkan dari cara-cara manusiawi hanya akan membuat penderitaan kita semakin berat. Kita juga akan semakin jauh dari sumber pertolongan yang sejati, yaitu Tuhan. Namun ketika kita mendekat pada Tuhan, Dia akan memberi pertolongan pada waktu-Nya (Ibr. 4:16).
Maka dari itu, jangan remehkan doa di dalam keseharian kita. Doa sepertinya kurang efektif, karena hasilnya mungkin tidak kelihatan mata. Namun kekuatan rohani yang kita dapatkan dari doa, justru adalah kekuatan yang sangat kita butuhkan. Hanya kekuatan seperti inilah yang mampu mengatasi keterbatasan-keterbatasan jasmani, mengubah hati manusia, mengalahkan kuasa-kuasa gelap, dan menggerakkan seluruh sumber daya ilahi.
Mungkin juga kita sedang merasa jawaban Tuhan kok tidak datang-datang, walaupun kita sudah lama sekali berdoa. Melalui kitab Ayub, kita diajar untuk memahami bahwa Tuhan berdaulat untuk menentukan hidup manusia. Termasuk juga, mengizinkan pergumulan yang berat terjadi dalam hidup kita dan seberapa lama kita akan menjalaninya.
Tanpa iman, fakta ini akan sangat berat untuk kita hadapi. Namun dengan iman, kita tahu ada rencana Tuhan yang mulia di setiap penderitaan kita. Melalui penderitaan, kita akan dibentuk semakin serupa dengan Kristus, yang rela menderita demi kita, orang-orang di sekitar kita akan melihat kuasa Tuhan yang besar di tengah keterbatasan kita. Mereka juga akan melihat bagaimana akhir hidup orang yang berkenan kepada Tuhan.
Hidup memang berat, tetapi ada maksud Tuhan yang mulia di baliknya dan kita pasti mampu melewatinya. Salib Kristus menjadi bukti dan jaminannya. Amin.
REFLEKSI
Di dalam kegelapan penderitaan kita, kasih karunia Tuhan bersinar lebih terang (John Calvin)
PERTANYAAN DISKUSI
- Apa saja yang bisa membuat penderitaan kita semakin terasa berat?
- Apakah orang yang mengalami lebih banyak penderitaan akan lebih beriman dan berhikmat dibanding orang yang mengalami penderitaan lebih sedikit? Jelaskan!
REFERENSI AYAT ALKITAB
Manusia itu seperti dipaksa berjuang;
hidupnya berat seperti hidup seorang upahan;
2 seperti budak yang merindukan naungan;
seperti buruh yang menantikan imbalan.
3 Bulan demi bulan hidupku tanpa tujuan;
malam demi malam hatiku penuh kesedihan.
4 Bila aku pergi tidur, malam merentang panjang;
kurindukan fajar, tak dapat kuberbaring tenang.
5 Tubuhku penuh cacing dan kerak darah;
kulitku luka dan mengeluarkan nanah.
6 Hidupku yang tanpa harap itu melaju menuju akhirnya,
lebih laju daripada penenun menjalankan sekocinya.
7 Ingatlah, ya Allah, hidupku hanya hembusan napas;
kebahagiaanku hilang, tak meninggalkan bekas.
8 Kini Engkau melihat aku — tetapi itu tidak lama.
Jika nanti aku Kaucari, maka sudah tiada.
9–10 Seperti awan yang meredup lalu menghilang,
manusia pun mati, tak akan kembali pulang.
Semua orang yang pernah mengenal dia,
lupa kepadanya dan tak lagi mengingatnya. (Ayb. 7:1-11 BIMK)
Sebab itu, marilah kita dengan penuh keberanian menghadap Allah yang memerintah dengan baik hati. Allah akan mengasihani kita dan memberkati kita supaya kita mendapat pertolongan tepat pada waktunya. (Ibr. 4:16 BIMK)

