Pendahuluan

Di tengah kemajuan berbagai teknologi saat ini, mulai dari AI, eksplorasi ruang angkasa, dan sebagainya, saya tertarik dengan bidang bisnis ini. Nama kerennya, cryonics. Perusahaan teknologi tinggi di bidang ini menerima jasad manusia atau binatang, menyimpan dan membekukannya sampai suhu tertentu. Tujuannya, ketika di masa depan teknologi sudah bisa membangkitkan manusia, maka jasad-jasad itu bisa kembali hidup.
Para ilmuwan terus percaya bahwa mereka bisa mengalahkan kematian. Namun, hingga saat ini, kehidupan abadi tidak kunjung diraih. Ini membuktikan bahwa manusia sangat takut mati, tetapi tidak berkuasa mengalahkannya. Pertanyaan mendasar kembali muncul, bisakah sesuatu yang mati dihidupkan kembali?
Keadaan Umat Tuhan: Tidak Berdaya Sama Sekali
Kesombongan untuk bersandar pada diri sendiri ini pernah dilakukan oleh bangsa Israel juga. Mereka merasa menjadi umat pilihan Tuhan, menerima Taurat, memiliki Bait Suci, tetapi lupa bahwa tanpa hadirat Tuhan, itu tidak ada kuasanya.
Maka, ketika mereka meninggalkan Tuhan, kejayaan mereka pun hilang. Puncaknya, umat Tuhan dihancurkan oleh bangsa asing. Inilah yang terjadi ketika Babel mengalahkan Yehuda. Banyak orang Israel dari kerajaan Yehuda, termasuk Yehezkiel, dibuang ke Babel.
Selama berada di Babel, orang-orang Israel sangat terpukul dan terhina. Yerusalem ditaklukkan, Bait Suci dinodai, dan segala kebanggaan mereka lenyap. Keadaan itu membuat mereka merasa seperti tulang yang kering. Tidak ada pengharapan lagi (ay. 11).
Di tengah ketidakberdayaan itu, Tuhan menugaskan Yehezkiel sebagai nabi untuk menyampaikan pesan-Nya. Salah satunya, di pasal 37 ini Tuhan memberikan penglihatan kepada Yehezkiel. Dia dibawa ke lembah yang penuh dengan tulang-belulang manusia. Tuhan menjelaskan bahwa seperti itulah keadaan Israel (ay. 11).
Inilah jawaban yang apa adanya. Tuhan tidak menutupi-nutupi keadaan bangsa Israel yang sedang putus asa. Akibat meninggalkan Tuhan, keadaan mereka memang sangat buruk. Bahkan jauh lebih buruk dibandingkan dengan bayangan mereka. Digambarkan bukan sekadar tulang-belulang, tetapi juga kering sekali (ay. 2).
Seperti bangsa Israel, mungkin pada saat ini masih ada sisa-sisa kesombongan dalam diri kita. Kita mungkin merasa kuat karena kemampuan kita, komitmen kita, atau kesalehan kita. Ketika kita sedang terpuruk, mungkin kita berpikir itu terjadi karena kita cuma kurang berusaha. Bahkan ketika kita berdosa, kita masih bisa berpikir bahwa itu adalah hal yang manusiawi, bukan sesuatu yang fatal.
Sayangnya, ini hanya angan-angan. Tuhan membukakan kenyataan melalui kabar buruk ini: manusia ada dalam ketidakberdayaan total! Bukankah hidup kita demikian? Keadaan baik tidak berlangsung selamanya. Keadaan buruk bisa bertambah buruk. Dan yang terburuk: kematian itu pasti dan semua manusia terancam binasa karena dosa. Adakah yang bisa membantah hal ini?
Maka, Tuhan pun bertanya, “Hai manusia fana, dapatkah tulang-tulang ini hidup kembali?” (ay. 3). Pertanyaan ini jelas menohok Yehezkiel. Sebagai manusia fana, yang tidak berkuasa atas hidupnya sendiri, Yehezkiel tahu, tulang-belulang seperti itu tidak mungkin bisa menghidupkan diri sendiri. Sesungguhnya, Israel, dan juga kita, bukan hanya lemah, tetapi mati rohani. Tidak ada harapan.
Pemulihan Tuhan bagi Umat-Nya
Di tengah kondisi yang sangat suram itu, Tuhan bertindak. Dia menitipkan firman-Nya kepada Yehezkiel. Yehezkiel pun bernubuat dan secara ajaib, tulang-tulang itu mulai bangkit. Daging dan urat tumbuh menjadi tubuh, tetapi belum hidup.
Selanjutnya, angin berembus dari segala penjuru dan Roh Tuhan memberi napas hidup kepada tubuh-tubuh itu (bnd. Kej. 2:7). Setelah itu, mereka hidup dan menjadi kesatuan tentara yang besar. Yang mati tidak bisa menghidupkan dirinya sendiri, Tuhanlah yang memberinya hidup. Inilah kabar baik dari Tuhan.
Pemulihan yang terjadi pada bangsa Yehuda berarti dilepaskan dari Babel dan kembali ke Yerusalem. Kelepasan itu membuat mereka kembali mengenal siapa Tuhan yang sesungguhnya (ay. 13).
Pemulihan ini menunjuk pada pemulihan yang lebih besar, ketika Kristus melepaskan manusia dari dosa dan maut. Pemulihan itu terjadi melalui firman Allah, sehingga kita dapat mengenal kebenaran. Selain itu juga melalui kuasa Roh Allah, sehingga kita dimampukan untuk menghidupi kebenaran itu dalam keseharian kita (Yoh. 7:38-39; Rm. 8:5).
Jadi, inilah prinsip yang dinyatakan Alkitab: kita hidup bukan karena kita mampu, tetapi karena Kristus memberi kita hidup.
Kita Sedang Bersandar pada Siapa?
Melalui bagian ini, kita disadarkan bahwa keadaan kita ternyata jauh lebih buruk daripada yang kita bayangkan. Dosa, kegagalan, kesombongan, penderitaan, kejahatan dunia—semua campur aduk di dalam kehidupan kita dan siap menghancurkan kita.
Namun, kita juga disadarkan bahwa kita ibarat tulang-belulang kering yang ada di tangan Tuhan, pemberi hidup. Justru di situasi-situasi yang paling gelap dan mustahil untuk bangkit, kebenaran dan kuasa Kristus akan paling terang bersinar. Pertanyaannya, akankah kita terus bersandar pada kekuatan sendiri?
Maka ketika kita mendidik anak, baik anak sendiri, anak Sekolah Minggu/kaum muda, anak di sekolah, jangan hanya fokus untuk membentuk karakter mereka. Jangan hanya memberi nasihat moral, karena di dunia saat ini, kita akan kalah menarik dengan influencer yang terlihat hebat di media sosial. Ingat, keadaan mereka adalah mati rohani, sehingga usaha manusia tidak akan pernah cukup. Maka, kita harus memberitakan firman Tuhan kepada mereka karena “iman timbul dari pendengaran akan firman Tuhan.” Lalu, kita harus berdoa supaya Roh Kudus bekerja membentuk mereka.
Mungkin kita merindukan kegerakan di dalam pelayanan kita, lalu kita menyusun banyak program. Renungkan, apakah program-program itu lahir dari pengenalan kita akan hati Tuhan, atau hanya strategi manusia? Sudahkah kita meninggikan Roh Kudus untuk memberi pertumbuhan rohani, yang tidak bisa kita paksakan?
Berhati-hatilah jika hidup kita baik, anak kita baik, pelayanan kita aktif, ibadah kita disenangi orang, tetapi firman Allah dan Roh Kudus tidak ditinggikan. Tanpa keduanya, bukan pemulihan sejati, mungkin hanya keadaan emosional yang terasa baik, tetapi rapuh.
Penutup
Hari ini kita sudah diingatkan betapa seriusnya keadaan kita di hadapan Tuhan. Mungkin kita juga merasa kering dan tidak berdaya. Namun, kita hidup bukan karena kita mampu, tetapi karena Kristus memberi kita hidup. Datanglah kepada Kristus, sumber hidup. Amin.
REFLEKSI
Engkau tidak akan bisa menghentikan kebangkitan rohani, seperti halnya juga tidak akan bisa memulainya. Itu bergantung sepenuhnya pada Tuhan (David Martyn Lloyd-Jones)
PERTANYAAN DISKUSI
- Bagaimana Anda bisa membedakan kebangkitan akibat emosi sesaat dengan kebangkitan sejati yang dikerjakan Tuhan?
- Apa yang bisa Anda lakukan dalam pelayanan supaya firman Tuhan dan Roh Kudus lebih ditinggikan?
REFERENSI
1 Aku merasakan kuasa TUHAN, dan Roh-Nya membawa aku menuruni lembah yang penuh dengan tulang-tulang. 2 Aku dituntun TUHAN berkeliling-keliling di lembah itu, dan kulihat bahwa di seluruh lembah itu berserakan tulang-tulang yang amat banyak dan kering sekali. 3 TUHAN bertanya kepadaku, ”Hai manusia fana, dapatkah tulang-tulang ini hidup kembali?”
Aku menjawab, ”TUHAN Yang Mahatinggi, hanya Engkaulah yang tahu.”
4 Lalu TUHAN menyuruh aku menyampaikan pesan-Nya kepada tulang-tulang yang kering itu, 5 ”Aku TUHAN Yang Mahatinggi meniupkan napas ke dalam dirimu supaya kamu hidup kembali. 6 Kutaruh urat dan daging padamu serta Kubalut kamu dengan kulit. Kamu akan Kuberi napas sehingga hidup. Maka tahulah kamu bahwa Akulah TUHAN.”
7 Lalu aku Yehezkiel berbicara kepada tulang-tulang itu sesuai dengan perintah TUHAN. Dan sedang aku berbicara itu, kudengar suara berderak-derak, karena tulang-tulang itu mulai bersambung satu dengan yang lain. 8 Sementara aku memperhatikannya, tulang-tulang itu mulai berurat dan berdaging, lalu berkulit juga tetapi tubuh-tubuh itu belum bernapas.
9 Allah berkata kepadaku, ”Hai manusia fana, bicaralah kepada angin. Katakanlah bahwa Aku, TUHAN Yang Mahatinggi memerintahkan kepadanya supaya datang dari segala arah, untuk meniupkan napas ke dalam tubuh-tubuh yang mati itu sehingga mereka hidup kembali.”
10 Maka aku berbicara sesuai dengan perintah TUHAN dan angin pun meniupkan napas ke dalam tubuh-tubuh itu lalu mereka hidup dan berdiri. Jumlah mereka sangat banyak, cukup untuk membentuk kesatuan tentara yang besar.
11 Allah berkata kepadaku, ”Hai manusia fana, tulang-tulang ini melambangkan bangsa Israel. Mereka mengeluh bahwa mereka kering, tanpa harapan dan tanpa hari depan. 12 Sebab itu meramallah kepada umat-Ku Israel itu bahwa Aku, TUHAN Yang Mahatinggi akan membuka kuburan mereka. Aku akan mengeluarkan mereka dari situ dan mengembalikan mereka ke tanah Israel. 13 Setelah Aku melakukan semuanya itu, umat-Ku akan tahu bahwa Akulah TUHAN. 14 Aku akan meniupkan napas dalam diri mereka untuk menghidupkan mereka, lalu mereka Kumungkinkan tinggal di negerinya sendiri. Maka tahulah mereka bahwa Akulah TUHAN. Aku TUHAN telah berbicara dan pasti akan melaksanakannya.” (Yeh. 37:1-14 BIMK)
38 Mengenai orang yang percaya kepada-Ku, tertulis dalam Alkitab: ’Dari dalam hatinya mengalirlah aliran-aliran air yang memberi hidup.’ ” (39 Yesus berbicara tentang Roh Allah, yang akan diterima oleh orang-orang yang percaya kepada-Nya. Sebab pada waktu itu Roh Allah belum diberikan; karena Yesus belum dimuliakan dengan kematian-Nya.) (Yoh. 7:38-39 BIMK)
Orang-orang yang hidup menurut tabiat manusia, terus memikirkan apa yang diinginkan oleh tabiat manusia. Tetapi orang-orang yang hidup menurut Roh Allah, terus memikirkan apa yang diinginkan oleh Roh Allah. (Rm. 8:5 BIMK)

